Waktu saat ini :: Telepon 081313584496 Email yayasandarulfikribawen@gmail.com
Info
Jumat, 11 Sep 2026
  • Selamat datang di Website Yayasan Darul Fikri Bawen

Kuleh Terro Andi’eh Anak

Diterbitkan : Sabtu, 11 Desember 2021

Kuleh Terro Andi’eh Anak

Arti judul adalah “Saya Ingin Punya Anak” dalam Bahasa Madura.

Oleh : Ustadz Iwan Setiawan, Lc

(Biro Kepatuhan Syariah IZI)

 

Belakangan sedang hangat dibicarakan fenomena childfree atau keputusan untuk tidak mau memiliki anak. Memang, itu adalah keputusan yang perlu dihormati (meski tidak disukai), dan pasti memiliki sisi positif maupun negatif baik secara duniawi terlebih secara ukhrawi. Salah satu sisi negatif gerakan childfree bagi suatu negara adalah ketika sudah terjadi degenerasi yang akan berdampak pada masalah ketenagakerjaan dan masalah sosial lainnya. Di beberapa negara banyak orang tua yang kehidupannya bergantung pada negara karena tidak ada anak atau keluarga yang mengasuh (inidia.id, 2021).

 

Dalam Islam, menikah lalu memiliki anak merupakan perintah Allah SWT:

“ …Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu (yaitu anak)” (QS Al-Baqarah: 187)

 

Rasulullah SAW pun memerintahkan umat beliau untuk menikah dan memiliki keturunan:

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya kalian, kelak dihadapan para Nabi pada hari kiamat.” (HR Ahmad)

 

Cukuplah ayat dan hadits di atas sebagai dalil yang tegas bahwa Islam memerintahkan mempunyai anak dengan jalan menikah dan bercampur suami-istri. Sekaligus dalil larangan dan celaan terhadap mereka yang tidak mau mempunyai anak padahal (dengan catatan) ada jalan untuk memperolehnya dengan kuasa Allah SWT.

 

Keuntungan memiliki anak antara lain derajat orang tuanya akan ditinggikan kelak di surga. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya ada seseorang yang ditinggikan derajatnya di surga”. Lalu ia (Abu Hurairah RA) bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mendapat (dejarat) ini?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘(Ini) disebabkan istighfar (permohonan ampun) dari anakmu (kepada Allah) untukmu.’” (HR Ibnu Majah)

 

Selain itu, doa anak yang shalih adalah investasi yang sejati bagi orang tuanya. Rasulullah SAW bersada:

“Apabila manusia telah mati maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya,  dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)

 

Lisan belum tentu mampu menahan untuk tidak mengungkit-ungkit sedekah jariyah, belum tentu juga dapat meninggalkan buku, teori, atau sumbangan ilmiah yang bermanfaat untuk kemaslahatan manusia sepeninggalnya. Maka apa lagi yang dapat diandalkan selain doa _“Rabbi ‘ghfir li wa li walidaiya…” lima kali sehari selepas shalat atau kiriman doa-doa lain dari anaknya.

 

Indonesia merupakan negara yang secara pertumbuhan ekonomi menuai manfaat dari banyaknya jumlah penduduk (worldbank.org, 2020). Pada tahun 2019, 120 juta penduduk Indonesia sudah termasuk aspiring middle class (kelas menengah harapan) dan 50 juta lainnya tergolong kelas menengah (kemenkeu.go.id, 2019). Itu adalah jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan total penduduk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura di tahun yang sama (31,95 juta dan 5,704 juta). Mungkin ini adalah sepenggal hikmah pernah terjadi baby boom pada tahun 1960an, yang saat ini patut kita syukuri dan berterima kasih kepada para pendahulu kita.

 

Memutuskan menjadi childfree bagi seorang muslim dengan alasan tanggungjawab memiliki anak terlalu besar dikhawatirkan menjadi tanda seseorang telah berputus asa. Sedangkan Allah SWT melarang hamba-Nya berputus asa dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah!” (QS Yusuf: 87)

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.“ (QS Al-An’am: 151)

 

Allahu A’lam

Pengumuman Lain

Diterbitkan : 15 Jan 2022

Meminta Bimbingan Allah SWT di Kala Futur

Diterbitkan : 11 Des 2021

Gaji PNS Tidak Halal?