Waktu saat ini :: Telepon 081313584496 Email yayasandarulfikribawen@gmail.com
Info
Sabtu, 12 Sep 2026
  • Selamat datang di Website Yayasan Darul Fikri Bawen

Ketika Hasan Datang

Diterbitkan : Selasa, 11 Juli 2017

KETIKA HASAD DATANG

Oleh :  Ustadz Iwan Setiawan, Lc

(Biro Kepatuhan Syariah IZI)

 

Perasaan tidak suka bila ada orang lain yang mengungguli dalam satu hal tertentu adalah sifat yang manusiawi. Namun meski merupakan tabiat manusia, dia tetap sifat yang tercela. Hasad (dengki) adalah suatu keinginan supaya kenikmatan yang diperoleh orang lain hilang atau bahkan berpindah kepada dirinya.

 

Allah sangat mencela sifat ini, sebagaimana sindiran-Nya terhadap bani Israel:

”Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman agar menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka…” (QS Al-Baqarah: 109)

 

”Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar.” (QS An-Nisa’: 54)

 

Dengki adalah penyakit sosial yang bahayanya sudah diperingatkan oleh Rasulullah:

“Penyakit-penyakit umat sebelummu akan merambah kepadamu; dengki dan permusuhan. Permusuhan laksana gunting, tapi agamalah yang terpangkas. Demi Dzat yang menguasai Muhammad, kalian ini belum beriman (dengan sempurna) sampai kalian bisa saling mengasihi. Inginkah saya beri tahu hal yang bila kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi? Sebarkan salam di antara kalian!” (HR Tirmidzi 2510)

 

“Umatku akan terjangkit penyakit umat-umat terdahulu. Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu?’ Rasulullah menjawab, ’…..saling bermusuhan dan dengki, hingga akhirnya banyak terjadi perzinahan dan pembunuhan.’”

 

Demikian besar dampak buruk yang diakibatkan oleh penyakit yang satu ini, sehingga Islam telah menyiapkan langkah pencegahan bahkan mulai dari tataran individu, yakni barangsiapa yang ada dengki dalam hatinya, maka kebaikan-kebaikannya akan musnah seperti kayu bakar yang dilahap api (HR Abu Dawud 4903).

 

Dengan demikian, pantaslah apabila yang melakukan pembunuhan dan perang/penjajahan/penindasan karena dengki itu hanyalah orang-orang yang tidak ada kebaikannya sama sekali.

Dan ketika dengki itu datang, apa yang harus kita lakukan?

 

Setidaknya ada 3 (tiga) tipe orang dalam menyingkapi munculnya rasa dengki:

Pertama, dengki itu mendorong seseorang ingin anugerah yang diperoleh oleh teman obyek kedengkiannya itu hilang. Untuk mewujudkannya, dia melakukan aneka tindakan dan ucapan yang dilarang agama. Sebagian bahkan ingin menghilangkan atau memindahkan anugerah itu tanpa peduli akan didapat oleh siapa meski bukan dirinya. na’udzubillahi min dzalik.

 

Kedua, orang yang tidak melakukan tindakan apa-apa tetapi membiarkan dengki itu ada dalam hatinya. Yang ia lakukan hanyalah berusaha untuk mendapatkan anugerah serupa untuk dirinya. Sikap seperti ini sama dengan sekelompok yang disinggung dalam Alquran:

”Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Al-Qashash: 79)

 

Perlu dicatat, bahwa yang dimaksud di sini adalah kedengkian yang bersifat dunia. Tidak belaku pada dengki atau iri yang positif, yakni dengki terhadap keutamaan-keutamaan ukhrawi yang dimiliki orang lain. Rasulullah sendiri mempunyai keinginan untuk mati syahid di medan perang.

 

”Tidak ada dengki kecuali terhadap 2 (dua) hal; orang yang dianugerahi harta oleh Allah dan ia menginfakkannya siang dan malam, dan orang yang diberi anugerah (keahlian membaca dan memahami) Alquran, kemudian ia mengamalkannya siang dan malam.” (HR Bukhari 5025).

 

Ketiga, orang yang mampu mengendalikan rasa iri yang muncul di hatinya lalu berusaha menghilangkannya. Sebagai countermeasure, ia justru berbuat baik, menjalin komunikasi dan silaturahim, mendoakan yang baik, serta menceritakan yang baik-baik teman yang menjadi obyek kedengkiannya. Dia berusaha mengganti rasa dengki itu dengan rasa cinta. Inilah tingkat keimanan yang tinggi, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri (HR Ibnu Majah 66).

 

Allahu muwafiq ila aqwamit thariq.

Pengumuman Lain

Diterbitkan : 11 Des 2021

Paylater di Marketplace

Diterbitkan : 11 Des 2021

Zuhud Sebagai Salah Satu Karakter Mukmin

Diterbitkan : 11 Des 2021

Hijrah Menuju Peradaban Mulia