Waktu saat ini :: Telepon 081313584496 Email yayasandarulfikribawen@gmail.com
Info
Jumat, 11 Sep 2026
  • Selamat datang di Website Yayasan Darul Fikri Bawen

Hijrah Menuju Peradaban Mulia

Diterbitkan : Sabtu, 11 Desember 2021

Hijrah Menuju Peradaban Mulia

Oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA

(Dewan Pengawas IZI)

 

Hijrah itu adalah perubahan. Berubah dari situasi yang tidak baik atau kurang baik kepada situasi yang baik atau lebih baik. Yang tak kalah penting adalah; perubahan itu ditandai dengan pergerakan (action).

Sudah menjadi sunnatullah bahwa alam semestea ini memiliki pergerakan. Air yang tergenang pun akan menjadi sumber penyakit jika tidak mengalir.

 

Begitu juga hijrah para Nabi alaihimus salam mengokohkan hukum alam bahwa dengan pergerakan dan perubahan itu akhirnya kelestarian perjuangan dan kemenangan akan terwujud.

Merubah Yatsrib Kepada Madinah

Sebelum Nabi saw hijrah, kota yang dituju itu dikenal dengan nama Yatsrib, Ketika Rasulullah saw tiba di kota itu, Beliau merubah nama Yatsrib kepada Madinah.

 

Secara bahasa Madinah artinya adalah kota. Tapi dari akar kata itu juga lahir kata tamaddun yang artinya adalah peradaban.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebuah kota mestinya menjadi tempat orang-orang yang beradab. Dari mulai hati, pemikiran, akhlak dan karya-karya manusia di dalamnya mestilah menujukan peradaban yang tinggi.

Membangun Masjid

Selain merubah Yatsrib kepada Madinah, maka hal lain yang Rasulullah saw lakukan adalah membangun masjid.

 

Pembangunan masjid ini merupakan pertanda bahwa peradaban Islam tidak lepas dari ruku’ dan sujud umat Islam kepada Allah azza wa jalla. Tentu ruku’ dan sujud  yang dimaksud adalah ketaatan penuh kepada Allah Ta’ala.

Dengan pembangunan masjid ini juga Nabi Muhammad saw ingin menyampaikan pesan bahwa mewujudkan peradaban Islam itu bagi Muslim adalah tonggak ubudiyah bentuk pengabdian dan penghambaan diri kepada Sang Pencipta, Allah swt.

 

Dibangunnya masjid sejak awal perjalanan membangun peradaban menunjukan bahwa peradaban dalam Islam tidak ditandai oleh gedung-gedung pencakar langit. Tidak pula oleh jumlah uang di pusat bisnis dan perbankan. Tetapi peradaban Islam tidak bisa terlepas dari hubungan nilai-nilai ketuhanan.

Peradaban inilah yang didambakan oleh semua manusia yang normal. Manusia menginginkan kebahagiaan (sa’adah) dan bukan sekedar kesenangan (mataa’).

 

Nilai-nilai ketuhanan itulah yang akan membawa kesenangan kepada kebahagiaan. Tampa nilai samawi, maka kesenangan akan hampa. Jauh dari kebahagiaan.

 

Kemandirian Ekonomi Umat

Pada tahun kedua setelah hijrahnya Rasulullah saw turunlah perintah berzakat. Dalam menyikapi perintah zakat ini, Rasulullah saw tidak saja memahaminya sekedar perintah mengeluarkan harta. Tetapi difahami dengan visi yang lebih besar yaitu membangun kekuatan ekonomi bagi Umat.

 

Wallahu A’lam

Pengumuman Lain

Diterbitkan : 11 Des 2021

Sedekah untuk orang yang sudah meninggal

Diterbitkan : 24 Des 2021

Klik Oke, Apakah Termasuk Ijab Kabul?

Diterbitkan : 11 Des 2021

Bijak Menyikapi Musibah