Waktu saat ini :: Telepon 081313584496 Email yayasandarulfikribawen@gmail.com
Info
Jumat, 11 Sep 2026
  • Selamat datang di Website Yayasan Darul Fikri Bawen

Bijak Menyikapi Musibah

Diterbitkan : Sabtu, 11 Desember 2021

Bijak Menyikapi Musibah

Oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA

(Dewan Pengawas Syariah IZI)

 

Ujian adalah keniscayaan bagi orang beriman.

Allah swt berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

(QS. Al-Anbiya ayat 35)

 

Adakalanya Allah menguji hambaNya dengan kebaikan dan nikmat. Dan adakalanya juga ditegur dengan bencana dan musibah.

 

Musibah itu kerap membawa kita ke titik terendah dalam kehidupan namun itu sebenarnya momen untuk mencapai titik yang tertinggi.

 

Sahabat Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda,

 

‎إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“‘Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.”

(HR. Ibnu Majah no. 4031 hadits ini dinyatakan Hasan).

 

Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, ‘Hadits di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah setelah terjadi dan bukan maksudnya untuk meminta musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini’.

 

Satu hal yang mesti diyakini adalah musibah pastilah atas kehendak Allah dan kekuasaanNya.

 

Dalam  al-Quran menjelaskan tentang hal tersebut, diantara nya :

‘Tiada suatu bencanapun

yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(QS. Al-Hadid ayat 22)

 

Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang Allah swt beri.

 

Jika hamba yang tertimpa musibah mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar.

 

Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang hilang itu kembali.

 

Bagi kita yang tidak tertimpa musibah, tidaklah elok bila kita defenitifkan musibah ini gara-gara dosa seseorang atau maksiat si anu dan si anu. Tentu orang-orang yang berduka tertimpa musibah ini, semakin luka dan pilu hati mereka.

 

Pada masa sahabat dan tabi’in, pernah juga terjadi musibah besar yang merengut banyak nyawa. Tapi, tak satupun ulama berani menunjuk dosa dan kesalahan sekelompok orang.

 

Tugas kita adalah membantu meringankan duka dan musibah mereka, semaksimal yang kita mampu. Baik moril apalagi materil. Minimal doa-doa terbaik bagi mereka dan mendorong mereka untuk bangkit untuk hidup normal kembali.

 

Jadi baik yang tertimpa musibah maupun tidak, bersikap bijak amatlah penting. Bukan saja agar terasa ringan, namun juga agar semua berpahala.

 

Wallahu A’lam

Pengumuman Lain