Oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA
(Dewan Pengawas Syariah IZI)
Beberapa hari ke depan kita memasuki saat kemuncak ibadah di bulan suci Ramadhan, yaitu sepuluh hari terakhir. Di dalamnya ada malam seribu bulan.
Seperti lomba lari, justru saat menjelang finish inilah yang menentukan apakah seseorang sebagai pemenang ataukah pecundang.
Kita lanjutkan pembahasan tentang orang yang menyesal di akhir Ramadhan.
Ketiga, orang yang tidak menghayati ibadah yang dijalani nya.
Puasa hanya menahan lapar dan dahaga.
Padahal semestinya ada tiga esensi puasa;
– Mampu mengendalikan jiwa
– Mengisi waktu dengan mengingat Allah Ta’ala
– Mengasah kepekaan dan kepedulian sosial
Karena itulah Rasulullah saw bersabda
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang hanya dapati dari puasa rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat malam hanya mendapatkan rasa capek saja.”
(HR. Ahmad, 2:373 dan Ibnu Majah, no. 1690 dari Sahabat Abu Hurairah ra)
Keempat, serius dan bersungguh-sungguh
Derajat takwa yang menjadi tujuan puasa tidaklah diraih begitu saja tanpa usaha dan kesungguhan.
Bukan jaminan juga semua yang melalui bulan Ramadhan layak meraih predikat itu.
Karena nya Allah menggunakan ‘la’alla’ (لعلكم) yang bermakna seseorang bisa mencapai kemuliaan takwa dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Rasulullah saw memberi teladan kepada kita
Diriwayatkan bahwa
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.”
(HR. Muslim no. 1175)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan Ats-Tsauri pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu.
(Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Kelima, selalu berharap amal nya diterima oleh Allah azza wa jalla.
Jadi orang yang tidak akan menyesal setelah Ramadhan adalah mereka yang tidak tertipu dengan amal mereka sendiri. Namun mereka berharap dan berdoa semoga Allah Ta’ala menerimanya.
Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”
Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”
Wallahu A’lam