Oleh : Ustadz Iwan Setiawan, Lc
(Biro Kepatuhan Syariah IZI)
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT.
Sampai saat ini Allah SWT masih memberikan kita nikmat yang sangat luar biasa, yaitu keimanan, kesehatan, umur panjang, dan sedikit rizki berupa harta dan dunia. Betapa harta yang dipunyai seorang anak manusia, mau bongkahan emas sebesar bumi sekalipun maka tidak akan bisa menukar kekufuran dengan keimanan. Berapa banyak orang yang hartanya habis hanya untuk berobat, dan berapa banyak harta yang ditinggalkan begitu saja oleh mereka yang sudah wafat.
Imam Ibnul Qayim mengatakan nikmat itu ada tiga macam:
Pertama, nikmat yang nampak di mata hamba.
Kedua, nikmat yang diharapkan kedatangannya.
Ketiga, nikmat yang tidak dirasakan.
Hanya saja, kebanyakan manusia hanya tahu nikmat-nikmat yang ada di hadapan matanya, terutama harta, dan hanya sedikit di antara mereka yang bersyukur atas itu. Padahal, nikmat yang diharapkan kedatangannya dan nikmat yang tidak dirasakan itu jauh lebih banyak daripada yang nampak di mata. Allah SWT berfirman:
”… Dan sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS Saba’: 13)
Nikmat, dan semua apa yang dikaruniakan Allah SWT kepada hamba sejatinya adalah ujian:
“…Ia (Sulaiman AS) pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau ingkar…” (QS An-Naml: 40)
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al-Anfal: 28)
Muara setiap hamba terhadap harta ada 2 (dua), berysukur atau ingkar. Untuk membentuk pribadi yang syukur, maka Imam Ghazali menasihati kita bahwa syukur itu tersusun dari 3 (tiga) hal, yaitu ilmu, keadaan, dan amal.
Ilmu, dengan menyadari bahwa semua yang diterima baik yang disadari maupun tidak adalah dari Allah SWT. Keadaan, yaitu bergembira karena memperoleh kenikmatan, bukan mengeluh atau menggerutu karena jumlahnya sedikit menurut pandangan mata, misalnya. Dan Amal, adalah mempergunakan nikmat itu sesuai tujuannya, yaitu bekal dan penopang hamba untuk mengabdi kepada Allah serta memakmurkan isi bumi.
Oleh sebab itu, jika seorang hamba telah mengetahui konsepnya (bersyukur secara ilmu) maka terhadap apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, ia tidak akan membanding-bandingkannya dengan yang didapat oleh orang lain. Seorang hamba yang bersyukur jika sudah mendapatkan gajinya tidak akan terfikir untuk membandingkan dengan gaji temannya yang lebih tinggi. Sebaliknya, ia segera menunaikan kewajibannya dengan berzakat jika memenuhi syarat zakat, atau mendermakanya sebagian untuk menghindarkannya dari jilatan api neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah pada neraka meski dengan (sedekah) sepotong kurma!” (HR Al-Bazzar dan Al-Haitsami).
Cara membandingkan nikmat yang benar menurut Rasulullah SAW adalah sebagaimana pesan beliau kepada umat:
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR Muslim)
Allahu A’lam