Oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA
Dewan Pengawas IZI
Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad saw bukan hanya dirasakan oleh Para Sahabat. Namun juga disaksikan oleh orang Kafir pada masa itu. Bahkan tokoh dan ilmuan non Muslim saat ini banyak yang terpesona dengan akhlak Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam .
“Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah termasuk pemimpin agama terbesar. Bisa juga dikatakan bahwa dia adalah seorang reformis, mumpuni, fasih, pemberani dan pemikir yang agung. Tidak boleh kita menyebutnya dengan apa yang bertentangan dengan sifat-sifat ini. Al-Qur’an yang datang besama Muhammad dan sejarahnya menjadi saksi atas kebenaran klaim ini.“
Dalam kesempatan lain Bretly Hiler, Orientalis Jerman dalam bukunya ‘Orang-Orang Timur dan Keyakinan-keyakinan Mereka’ menyatakan:
“Muhammad adalah seorang kepala negara dan punya perhatian besar pada kehidupan rakyat dan kebebasannya. Dia menghukum orang-orang yang melakukan pidana sesuai dengan kondisi zamannya dan sesuai dengan situasi di mana Nabi hidup di antara mereka. Nabi ini adalah seorang penyeru kepada agama Tuhan Yang Esa. Dalam dakwahnya, dia menggunakan cara yang lembut dan santun meskipun dengan musuh-musuhnya. Pada kepribadiaannya ada dua sifat yang paling utama dimiliki oleh jiwa manusia. Keduanya adalah ‘keadilan dan kasih sayang.”
Bagi kita sebagai Muslim, maka pesona tentu nya bukan hanya terkagum kagum dan mengaku cinta dengan Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi juga ittiba’. Bukankah esensi mencinta itu patuh, taat dan membela?
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali Imran ayat 31)
Wallahu A’lam