Oleh : Ustadz Iwan Setiawan, Lc
(Biro Kepatuhan Syariah IZI)
Bulan Rabiul Awal umat Islam patut untuk berbahagia. Bagaimana tidak! Pada bulan itu seorang nabi terakhir telah terlahir ke muka bumi. Beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Isa AS yang hidup sekitar 6 Abad sebelumnya bersuka cita dengan kabar akan lahirnya Rasulullah SAW dan rasa itu beliau sampaikan kepada umatnya:
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’” (QS As-Shaff: 6)
Bahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang hidup sekitar 30 generasi sebelum Rasulullah Muhammad SAW telah berdoa kepada Allah SWT agar diutus seorang rasul dari kaumnya:
“Ya Tuhan kami, utus-Lah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkau-Lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Al-Baqarah: 129)
Kita patut berbahagia, karena kita termasuk ke dalam umat Rasul yang didamba-dambakan tersebut. Cara untuk menyalurkan energi kebahagiaan itu tidak lain adalah dengan meneladari Rasulullah SAW dalam berbagai sisi.
Sebagai umat Islam, tentunya wajib meneladani Sang Nabi. “Meneladani Rasulullah SAW” adalah kata yang mudah diucapkan, tapi sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan langkah-langkah untuk meneladani beliau. Berikut 3 langkah yang dikutip dari Abu Maskur (2020):
1) Niat yang Ikhlas
Meneladani Rasulullah SAW memerlukan niat yang ikhlas, yaitu semata-mata ditujukan untuk mendapatkan ridhanya Allah SWT bukan yang lainnya seperti ingin dianggap sebagai orang paling shaleh, alim, kiai, atau paling sunnah.
Ketika seseorang ingin berhijrah dengan niat untuk Allah SWT dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya. Dan jika hijrahnya untuk menyalurkan nafsu dasar manusia atau demi suatu potensi pasar maka -bi idznillah- dia pun akan mendapatkannya. Kedua niat akan mendapat ganjarannya, apakah ridha-Nya atau murka-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada hamba-hamba-Nya.
Oleh karena itu, niat yang ikhlas dalam meneladani Rasulullah SAW adalah syarat yang mutlak.
2) Mencintai dan Memuliakan Beliau
Meneladani Rasulullah SAW adalah suatu pekerjaan yang sangat sukar untuk dilakukan, mengingat luasnya keteladanan beliau dan kuatnya pengaruh hawa nafsu yang ada dalam diri seseorang. Oleh karena itu, agar ringan dan mudah dalam meneladani Rasulullah SAW maka hal utama yang harus dilakukan selain niat yang ihlas adalah mencintai Beliau. Salah satu cara menghadirkan cinta kepada Rasulullah SAW ke dalam hati kita adalah terjaga agar tidak lalai bershalawat kepada Beliau.
3) Menjalankan Ajaran Beliau dengan Antusias
Ajaran-ajaran Alquran dan As-Sunnah tentu memiliki cakupan yang sangat luas sehingga tidak mungkin untuk dilakukan semuanya. Oleh sebab itu, diperlukan usaha secara bertahap dan penuh antusias. Mulai dari ajaran yang paling dasar dan mudah untuk dilakukan. Mulai dari belajar Alquran dan menjalankan perintah-perintah Allah SWT di antaranya shalat, zakat, puasa dan haji secara tepat juga memenuhi syarat dan rukunnya.
Keteladan adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia, mengingat manusia sendiri cenderung untuk meniru, mencontoh dan mengikuti orang lain. Islam menjelaskan bahwa jika kita ingin meniru oatau mencontoh orang lain maka contoh dan ikutilah teladan dari orang-orang yang baik, dan sebaik-baik teladan sepanjang sejarah umat manusia adalah Rasulullah Muhammad SAW. Sang pemilik akhlak yang agung.
Allahu A’lam