Waktu saat ini :: Telepon 081313584496 Email yayasandarulfikribawen@gmail.com
Info
Jumat, 11 Sep 2026
  • Selamat datang di Website Yayasan Darul Fikri Bawen

Meminta Bimbingan Allah SWT di Kala Futur

Diterbitkan : Sabtu, 15 Januari 2022

Meminta Bimbingan Allah SWT di Kala Futur

Oleh : Ustadz Iwan Setiawan, Lc
(Biro Kepatuhan Syariah IZI)

Masih dalam suasana mengawali tahun yang baru ini, sebagai refleksi terhadap tahun-tahun yang telah berlalu, juga sebagai panduan untuk tahun-tahun yang akan kita jalani, maka tepatlah kiranya kita meresapi kembali untaian nasihat dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

Orang yang menjaga waktu bisa meningkat ke jenjang kesempurnaan, sedangkan orang-orang yang menyia-nyaiakan waktu bukanlah berhenti pada posisinya, tetapi turun ke jenjang kemunduran. Jika tidak maju maka berarti mundur, karena hamba harus terus berjalan dan tidak berhenti. Bahkan, menurut tabiat dan syariat, tidak dikenal istilah “pemberhentian”. Ada orang yang berjalan cepat, dan ada yang lambat. Ada yang maju, dan ada yang mundur, tetapi tidak ada orang yang berhenti di jalan. Mereka terlihat berhenti karena mengubah arah perjalanan atau kecepatan.

إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ . نَذِيرًا لِلْبَشَرِ . لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
”Sesunggunya (Neraka Saqar) itu adalah salah satu bencana yang besar. Sebagai peringatan bagi manusia. (Yaitu) bagi siapapun di antara kalian yang berkehendak maju atau mundur.” (QS Al-Muddatstsir: 35-37)

Allah SWT tidak menyebutkan orang yang “berhenti”, karena tidak ada tempat di antara surga dan neraka, dan tidak ada jalan bagi orang yang menempuh jalan kecuali surga atau neraka. Siapa yang tidak maju bergerak menuju surga dengan amal-amal shaleh, berarti dia mundur ke neraka dengan amal-amal buruk.

Terdapat kemungkinan seseorang berhenti dari amal shalih. Mungkin dia berhenti untuk memulihkan kekuatannya lalu mempersiapkan amal selanjutnya. Perhentian seperti ini tidak membahayakan.

“Sesungguhnya setiap amal mempunyai semangat, tetapi setiap semangat mempunyai satu masa kelesuannya (futur). Barang siapa yang futurnya (dalam rangka) menuju sunnahku maka sungguh ia mendapat petunjuk, sedangkan siapa yang futurnya untuk selain itu maka sungguh dia akan binasa.” (HR Ibnu Khuzaimah 2106)

Kemungkinan lain, dia berhenti karena ada yang menyeru dan menariknya dari belakang. Jika ia mengindahkan seruan itu pasti dia mundur. Dalam keadaan demikian, jika Allah SWT merahmatinya maka dia akan bangkit dengan rasa menyesali ketertinggalannya. Tetapi, jika dia terus bersama orang-orang yang mengajaknya mundur, sesungguhnya mereka yang menyeru mundur itu sekali-kali tidak akan rela kalau dia kembali dari kelalaian. Selanjutnya, dia akan memenuhi hawa nafsu hingga terhempas ke dalam keadaan yang paling buruk dan hina.

Jika Allah SWT berkehendak, Dia akan menarik hamba tersebut dan membebaskannya dari kehinaan. Jika tidak, dia akan terus mundur sampai meninggal dunia, kembali ke belakang, terbalik, atau miring. Laa hawla walaa quwwata illa billah…

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
”Wahai Tuhan kami, jangan-Lah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan-Lah kepada kami rahmat dari sisiMu, karena sesungguhnya Engkau-Lah Maha Pemberi karunia.”

يَا مُقّلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
”Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkan-Lah hatiku di atas agama-Mu!”

Allahu A’lam

Pengumuman Lain

Diterbitkan : 19 Feb 2022

Sedekah Di Saat Sulit

Diterbitkan : 24 Des 2021

Klik Oke, Apakah Termasuk Ijab Kabul?

Diterbitkan : 11 Jul 2017

Membandingkan Nikmat